Ket: Foto: dok.JAPRI) Foto : (Japri)
BUKBER HIMA UT Riyadh: Sarjana, Tapi Bingung
Riyadh - Minggu terakhir Ramadan, Himpunan Mahasiswa Universitas Terbuka Riyadh (HIMA UT Riyadh) menggelar buka bersama. Kegiatannya sederhana—seperti banyak komunitas lain di Riyadh yang lebih dulu melakukannya. Tapi bagi kami, ini bukan sekadar berbuka. Ada kegelisahan yang ingin dibicarakan. Ada pertanyaan yang ingin dijawab.
Kami tidak ingin momentum buka bersama ini hanya diisi dengan ceramah normatif khas Ramadan—sekadar mengulang ayat tentang kewajiban berpuasa atau kisah turunnya Al-Qur’an. Tidak berhenti di sana. Yang kami cari adalah sesuatu yang lebih substantif. Lebih taktis. Lebih relevan dengan problem nyata yang dihadapi para pembelajar Universitas Terbuka.
Dari kegelisahan itulah tema ini lahir: “Setelah Menjadi Sarjana, Lalu Apa?”
Pertanyaan sederhana, tapi menghantui banyak orang.
Ini bukan sekadar tema. Ini adalah upaya menjawab problem klasik para pemegang ijazah sarjana. Setelah lulus, banyak yang justru gamang. Dunia kerja terasa asing. Kompetisi begitu ketat. Perubahan berjalan cepat, sering kali tanpa aba-aba.
Di titik itulah terjadi jarak: antara gelar dan realitas pasar kerja.
HIMA Riyadh mencoba menjembatani jarak itu. Kami menghadirkan narasumber yang tidak hanya paham teori, tetapi juga bersentuhan langsung dengan realitas. Hadir Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Riyadh, Prof. M. Irfan Helmy, Lc., M.A., serta Aji Teguh, S.T., M.Sc.—seorang profesional sekaligus praktisi AI.
Harapannya sederhana: memberi peta jalan. Agar sarjana tidak hanya lulus, tetapi juga mampu bertahan—bahkan berkembang—di tengah kompleksitas zaman.
Prof. Irfan mengingatkan satu hal penting: mahasiswa harus mampu berayun di antara dua kutub—legalitas akademik berupa ijazah, dan kapasitas nyata untuk menghadapi dunia kerja.
Ijazah penting. Tapi tidak cukup.
Ket: Foto: dok.JAPRI) (Foto: Japri)
Sejak di bangku kuliah, mahasiswa tidak bisa hanya bertumpu pada pengetahuan kognitif. Ada tiga hal krusial yang tidak boleh diabaikan:
pertama, kompetensi non-akademik;
kedua, kemampuan adaptif;
ketiga, karakter.
Tanpa itu, gelar hanya menjadi simbol. Bukan alat.
Memang, ada yang terasa ganjil dalam sistem pendidikan kita. Kita bangga mencetak sarjana. Jumlahnya terus meningkat. Kampus bertambah. Wisuda digelar berkali-kali dalam setahun.
Namun di saat yang sama, angka pengangguran sarjana justru ikut naik.
Data Badan Pusat Statistik tahun 2025 mencatat: lebih dari satu juta lulusan perguruan tinggi belum mendapatkan pekerjaan, dengan tingkat pengangguran di kisaran 5–6 persen.
Ini ironi.
Kita seperti sedang memproduksi harapan—besar-besaran—tetapi lupa menyiapkan ruang untuk menampungnya.
Gelar sudah di tangan.
Tapi pekerjaan? Belum tentu datang.
Di sisi lain, Aji Teguh, S.T., M.Sc.—yang akrab disebut “manusia AI”—datang membawa sudut pandang berbeda. Lewat proyek barunya, INSAN-AI, ia tidak sekadar bicara teknologi. Ia bicara cara berpikir.
Mahasiswa, kata Aji, tidak cukup hanya menjadi pengguna AI. Tidak cukup sekadar tahu cara pakai. Harus naik satu tingkat: memahami cara kerjanya. Mengerti logika di balik algoritma. Tahu kenapa sebuah jawaban muncul—bukan sekadar menerima hasilnya.
AI bukan kalkulator baru. Ia lebih dari itu.
Ia bisa membantu tugas kuliah. Bahkan mempercepat pekerjaan yang biasanya makan waktu berjam-jam. Tapi di situlah jebakannya. Banyak yang tergoda.
Ada cerita menarik—sekaligus mengkhawatirkan. Puluhan skripsi mahasiswa ditolak. Bukan karena topiknya buruk. Bukan karena datanya lemah. Tapi karena AI digunakan secara serampangan. Tanpa batas. Tanpa etika.
Padahal, persoalannya sederhana.
AI itu seperti pisau dapur.
Bisa membantu. Bisa juga melukai.
Aturannya belum detail. Baru sebatas etika: gunakan dengan tanggung jawab. Selebihnya, kampus dan dosen yang menentukan. Ada yang longgar, ada yang ketat. Tapi satu hal pasti: kejujuran tidak bisa ditawar. Kalau pakai AI, katakan.
Masalah muncul saat AI dijadikan jalan pintas. Tugas dikerjakan mesin, lalu diakui sebagai karya sendiri.
Di situ garisnya tegas.
Itu bukan belajar. Itu menyiasati.
Prinsipnya sederhana: AI boleh membantu, tapi otak tetap harus bekerja. Karena yang diuji bukan AI—melainkan diri Anda sendiri.
Pak Aji menekankan benar mempelajari AI, kesejahteraan dapat diraih dengan mendalami AI, seperti prediksi Jensen Huang - Founder and CEO, NVIDIA bahwa AI akan menciptakan bayak miliarder dalam 5 tahun kedepan . Pun seperti predikis Elon Musk dalam pidatonya di World Economic Forum sebulan lalu bahwa dalam 10 -20 tahun kedepan, bekerja bagi manusia adalah hanya optional semacam sebuah hobi semata, karena semua Pekerjaan di kerjan oleh AI , Adapun manusia lebih memiliki banyak waktu untuk santai .
Meskipun kemajuan AI yang begitu pesat dengan angin surga kesejahteraan oleh para pelaku industry Ai bukan tanpa kehawatiran yang justru merusak kehidupan dan alam . Yuval Harari sejarawan intelektual justru menghawatirkan itu .
Yuval Noah Harari melihat AI bukan sekadar teknologi, tapi titik balik peradaban. Ia khawatir bukan pada mesin, melainkan pada siapa yang mengendalikan mesin itu. AI bisa menguasai informasi, membentuk opini, bahkan memanipulasi realitas lewat deepfake. Ketika kebenaran bisa diproduksi seperti barang pabrik, maka kepercayaan publik menjadi rapuh. Demokrasi bisa goyah—bukan karena kudeta, tapi karena algoritma.
Yang lebih sunyi tapi berbahaya: manusia perlahan kehilangan perannya. Banyak pekerjaan hilang, digantikan mesin yang lebih cepat dan lebih murah. Sebagian manusia bisa tersisih, bukan karena tidak mampu, tapi karena tidak lagi dibutuhkan. Di saat yang sama, keputusan-keputusan hidup kita mulai dipandu algoritma. Kita merasa memilih, padahal diarahkan. Di titik itu, Harari seperti sedang bertanya pelan: apakah kita masih memegang kendali, atau diam-diam sudah menyerahkannya?
Di titik itulah, pertanyaan sebenarnya bukan lagi seberapa canggih AI akan berkembang. Tapi: seberapa siap manusia menghadapinya. Apakah kita akan menjadi pengendali, atau justru diam-diam dikendalikan.
Sarjana hari ini tidak cukup hanya cerdas. Ia harus jujur. Tidak cukup hanya cepat. Ia harus tepat. Tidak cukup hanya menguasai teknologi. Ia harus menguasai dirinya sendiri.
AI akan terus melaju—dengan atau tanpa kita. Tapi satu hal yang tidak boleh tertinggal: kesadaran bahwa manusia tetap harus menjadi pusat kendali. Karena ketika logika mesin mulai menggantikan nurani, di situlah peradaban pelan-pelan kehilangan arah.
Maka, setelah menjadi sarjana—jawabannya bukan sekadar mencari kerja. Tapi memastikan: kita masih berpikir, masih memilih, dan masih benar-benar menjadi manusia.
Pada akhirnya, pertanyaan “Setelah menjadi sarjana, lalu apa?” tidak cukup dijawab dengan gelar, apalagi sekadar kecanggihan teknologi. Jawabannya ada pada keberanian untuk terus belajar, beradaptasi, dan menjaga integritas di tengah godaan jalan pintas.
AI boleh semakin pintar, tapi manusia tidak boleh kehilangan arah. Justru di era inilah, nilai kejujuran, karakter, dan kemampuan berpikir menjadi pembeda yang sesungguhnya. HIMA Riyadh sudah memulai satu langkah kecil: membuka ruang diskusi yang jujur dan relevan.
Tinggal bagaimana kita, para sarjana—dan calon sarjana—tidak hanya hadir, tapi benar-benar bergerak. Karena masa depan tidak menunggu. Ia hanya memberi tempat bagi mereka yang siap.
Author : Ari Mustarinudin18-03-2026 20:38 WAS