... Ket: Bukber di KBRI Riyadh Foto : (Japri)

BUKBER DI KBRI DALAM HAWA PERANG

Riyadh - Hari Ahad kemarin, 1 Maret 2026, KBRI Riyadh mengundang para WNI dan PMI menghadiri acara Pengantar Tugas Pejabat KBRI Riyadh yang telah purna. Tiga insan pengabdi bangsa yang menutup babak tugasnya: Dziky Mutaaly sebagai Sekretaris Ketiga/Fungsi Konsuler III, Kholid Ibrahim sebagai Atase Tenaga Kerja, dan Minggu Sanijah Zaladri sebagai Pranata Informasi Diplomatik II. Datang pula pejabat baru seperti Atase Perdagangan Ibu Zulvri Yenni, membawa amanah baru di tanah rantau.

Acara tersebut dirangkai dengan buka bersama WNI. Acara semacam ini penting—agar masyarakat tahu siapa yang pulang, siapa yang datang, siapa yang meneruskan amanah. Apalagi di tengah panasnya langit Timur Tengah, ketika serangan-serangan dan kabar-kabar perang berkelebat di layar ponsel kita. Bukber bukan sekadar makan bersama, tapi ruang saling menguatkan, ruang KBRI memberi imbauan dan arah agar kita tetap selamat di negeri orang.

Para PMI, mahasiswa, dan komunitas—termasuk kita yang sering mondar-mandir dalam kegiatan masyarakat PMI—datang dengan antusias. Aula KBRI dipadati sekitar dua ratus orang. Saya sendiri datang agak terlambat, tapi masih sempat mendengar Pak Dubes mengutip Surah Al-Mulk ayat 15:

Huwa alladz? ja‘ala lakumul-ar?a dzal?lan famsh? f? man?kibih? wa kul? mir-rizqih? wa ilaihin-nusy?r.

Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan."

Beliau menafsirkan kata dzal?lan sebagai bumi yang Allah jadikan mudah diadaptasi. Maka di mana pun kita merantau—di Riyadh, di Dhahran, di mana saja—belajarlah menyesuaikan diri, menata hidup, mencari rezeki, dan menjaga martabat. Nasihat itu bukan hanya untuk diplomat yang purna tugas, tapi juga untuk kita semua yang sedang belajar menjadi manusia di tanah asing.

Di ujung acara, Wakil Kepala Perwakilan RI Pak Sugiri Suparwan mengingatkan: tingkatkan kewaspadaan, jangan panik. Jika melihat konsentrasi tentara di jalan, itu titik yang sebaiknya dihindari. Apalagi bagi WNI yang berada dekat radius fasilitas militer seperti pangkalan di Arab Saudi—di Al-Kharj, Dhahran, maupun kompleks Eskan Village di Riyadh. Bergabunglah dengan komunitas, saling memberi kabar, saling menjaga.

Ketiga, Eskan Village di Riyadh, yang merupakan kompleks perumahan dan kantor bagi personel militer AS; lokasi ini bukan pangkalan tempur, tetapi telah digunakan sejak Perang Teluk.

Mengingat keberadaan titik-titik tersebut, penting bagi kita untuk meningkatkan kewaspadaan, mengikuti informasi resmi dari otoritas setempat, serta bergabung dengan komunitas warga Indonesia di Arab Saudi agar dapat saling berbagi informasi dan dukungan.

Dari berbagai pandangan para analis di media, belum ada kepastian kapan ketegangan ini akan mereda. Bisa jadi ia bertahan sepanjang masa kepemimpinan Donald Trump. Di tengah bulan puasa, sebagian umat Muslim merasa kegaduhan geopolitik itu seperti tak memberi ruang pada ketenangan batin yang sedang mereka jaga.

Dahlan Iskan dalam catatan harianya mengatakan bahwa perang di era ini tidak membutuhkan banya tantara. Apa yang terjadi di Iran kian membuktikan bahwa yang terpenting adalah teknologi tinggi. Yang terpenting kedua: kecanggihan intelijen. Banyaknya batalion konvensional hampir tidak ada gunanya.

Kelebihan perang jenis ini adalah: yang jadi korban pertama adalah para pemimpin tertinggi. Lalu para pemimpin level di bawahnya. Prajurit justru lebih selamat. Maka istilah pion dikorbankan lebih dulu –seperti dalam permainan perang di catur– tidak berlaku lagi. Lawan sudah bisa melakukan skakmat ketika semua pion masih utuh berbaris di depan raja.

Seperti apa selanjutnya keadaan global pasca terbunuhnya Imam Khamenei ? 

Denny JA dalam postinganya sangat menarik . Tiga skenario perang Iran–Israel (+AS) mengingatkan kita bahwa konflik besar selalu bergerak di antara kalkulasi rasional dan emosi balasan. Skenario pertama adalah perang terbatas—serangan presisi, balasan terukur, diplomasi diam-diam—di mana semua pihak ingin menang tanpa benar-benar menghancurkan. Skenario kedua lebih mengkhawatirkan: konflik melebar ke kawasan, melibatkan milisi, jalur minyak terganggu, harga energi melonjak, dan dunia—termasuk Indonesia—merasakan dampaknya sampai ke dapur rakyat. Bagi kita di Riyadh yang hidup dekat episentrum geopolitik ini, bayangan itu bukan sekadar teori; ia terasa dalam diskusi rekan kerja saya yang orang Saudi, dalam berita yang menembus ruang tamu, dalam kecemasan tentang stabilitas kawasan yang kita tinggali.

Skenario ketiga bahkan lebih sunyi tetapi berbahaya: tekanan perang memicu retakan internal dan perubahan rezim yang tak menjamin damai. Sejarah Irak dan Libya mengingatkan bahwa runtuhnya kekuasaan bisa melahirkan kekacauan lebih panjang daripada perang itu sendiri. Dalam pusaran itu, Indonesia harus menjaga politik bebas-aktif, memperkuat diplomasi, dan menyiapkan ketahanan energi—sebuah sikap realistis ala Muhammad Chatib Basri: tenang membaca angka, tetapi peka pada manusia di balik statistik. Karena pada akhirnya, yang paling mahal dari perang bukanlah rudal yang melesat, melainkan masa depan yang tertunda—generasi yang tumbuh dalam bayang-bayang ketakutan, bahkan bagi kita yang hanya menjadi saksi dari jauh.

Pada akhirnya, kita turut berbelasungkawa atas gugurnya Ali Khamenei dalam serangan yang mengguncang Iran. Setelah lebih dari tiga dekade memimpin sejak 1989, ia menutup lembar hidupnya dan kembali kepada Sang Pemilik kehidupan, membawa keyakinan yang ia anggap sebagai jalan membela negerinya. Di hadapan takdir, kita semua hanyalah tamu yang suatu hari akan dipanggil pulang.

Ramadan tahun ini terasa berbeda. Agin dunia tak lagi sejuk seperti tahun-tahun lalu. Di Timur Tengah, langit seolah dipenuhi bisik dan gemuruh yang tak kunjung reda. Sejak memasuki musim kedua kepemimpinan Donald Trump di Amerika Serikat, irama global seperti kendang perang yang ditabuh tanpa jeda—perang tarif, eskalasi senjata, konflik Rusia–Ukraina, Palestina–Israel, hingga ketegangan Iran–Israel–Amerika—membentuk lingkaran setan yang terasa tak berujung.

Dunia kini tak lagi satu matahari. Ia seperti galaksi kecil dengan banyak pusat cahaya, yang masing-masing merasa paling terang. Dahulu Amerika berdiri seperti jagoan di tengah gelanggang, seolah tak ada penantang. Kini di Timur berdiri China dengan sabar dan senyapnya, di daratan luas ada Rusia dengan dingin langkahnya, dan di Timur Tengah ada Iran dengan sejarah panjangnya.

Mereka mungkin disebut negara berkembang, tapi jiwanya tak mau sekadar jadi penonton. Digertak, mereka tak lari; malah balik bertanya, “Mengapa aku harus tunduk?” Amerika pun bingung menghadapi tekad semacam ini—tekad bangsa yang lahir dari ribuan tahun perjalanan, dari peradaban yang lebih tua dari kalender-kalender modern.

Maka kita yang hendak berbuka puasa, hendaknya tak hanya menyiapkan kurma dan teh hangat. Kita juga perlu menyiapkan kewaspadaan hati. Karena di tengah dunia yang gaduh, Ramadan mengajarkan kita satu hal:

jangan sampai perut kenyang, tapi nurani tertidur.
Jangan sampai meja bukber penuh tawa, tapi jiwa kita lupa berdoa bagi dunia yang sedang luka.

Bukber boleh ramai, tapi batin tetap waspada.
Sebab damai sejati tidak lahir dari perut kenyang,
melainkan dari hati yang masih sanggup berempati.

 

Bukber di KBRI Riyadh Ket: Bukber di KBRI Riyadh (Foto: KBRI)

 

 

 

Author : Ari Mustarinudin
02-03-2026 13:42 WAS