... Ket: Foto: dok.JAPRI) Foto : (Japri)

Hari ke-5 Ramadan di Riyadh

Riyadh - Hari ini 22 Februari 2026. Di Arab Saudi, tanggal ini diperingati sebagai Founding Day—hari berdirinya kerajaan ini.

Saya memenuhi undangan buka puasa. Bersama kawan-kawan Jalinan Persaudaraan Indonesia (JAPRI).

Bukan di rumah sederhana.

Kami berbuka di hotel.

Holiday Inn Riyadh Al Qasr

Lampu-lampunya hangat. Karpetnya tebal. Meja panjang berjejer rapi. Kurma tersusun di piring kecil. Sup panas mengepul. Ada nasi mandi. Ada ayam kebab dan daging kebab yang masih hangat. Ada laban dingin. Hidangannya prasmanan. Panjang sekali mejanya. Selain makanan berat, ada kue-kue Arab yang manis legit, shawarma fresh dipotong langsung di depan tamu, buah-buahan segar, dan aneka makanan lain yang membuat mata lebih dulu kenyang.

 

Foto: dok.JAPRI) 

Ket: Foto: dok.JAPRI) (Foto: Japri)

Menjelang magrib, suasananya hening.

Tidak ada bedug. Tidak ada gorengan. Tidak ada pedagang takjil. Riyadh punya cara sendiri menyambut Ramadan.

Menjelang magrib, suasananya hening.

Tidak ada bedug. Tidak ada gorengan. Tidak ada pedagang takjil. Riyadh punya cara sendiri menyambut Ramadan.

Saya jadi ingat kampung.

Di Indonesia, menjelang buka puasa selalu ramai. Anak-anak berlarian. Pedagang dadakan muncul di tikungan jalan. Orang antre beli kolak. Ada yang cari es buah. Ada yang cuma ikut suasana.

Di Riyadh, bahkan di hotel besar, Ramadan terasa tenang.

Seorang kawan Saudi di sebelah saya berkata, “Ramadan kareem.”

Saya jawab, “Allah akram.”

Kami tersenyum. Tidak perlu banyak kata.

Azan belum berkumandang. Hidangan sudah siap.
Kami makan dulu. Foto-foto. Rekam video sebentar. Setelah kenyang, baru shalat.

Saya tersenyum sendiri. Begitulah Ramadan di zaman ponsel pintar. Bahkan lapar pun kadang menunggu kamera.

Tapi tidak apa-apa. Yang penting hatinya tetap ingat Tuhan.

Saya sering berpikir: puasa itu sama di seluruh dunia. Syariatnya tidak berubah. Dari Indonesia sampai Arab Saudi.

Yang berbeda hanya suasananya.

Puasa tidak turun di ruang kosong. Ia turun di tengah budaya manusia. Di Makkah. Di Madinah. Lalu menyebar ke seluruh dunia. Ke Lombok yang dikenal sebagai Pulau Seribu Masjid. Ke Jawa yang gaduh pasarannya. Ke Afrika. Ke Eropa. Sampai ke Riyadh ini.

Syariatnya satu. Cara menjalaninya beragam.

Di kampung saya orang menunggu azan sambil dengar bedug. Di Riyadh orang melihat jam di ponsel. Di Turki ada meriam Ramadan. Di Mesir ada lentera Fanous.

Islam tidak menghapus budaya. Ia membersihkannya. Lalu memberinya arah.

Puasa juga bukan hanya milik umat Islam.

Dalam Kristen ada masa Prapaskah. Dalam Yahudi ada Yom Kippur. Dalam Hindu ada Ekadashi. Dalam Buddhisme ada Uposatha.

Tujuannya hampir sama: melatih diri.

Manusia tidak boleh jadi budak nafsunya.

Islam memberi bentuk paling jelas lewat Ramadan. Dari fajar sampai magrib. Menahan makan. Menahan minum. Menahan marah. Menahan ego.

Sederhana. Tapi sulit.

Kalau lapar saja tidak bisa dikendalikan, bagaimana mengendalikan kekuasaan? Bagaimana mengendalikan uang? Bagaimana mengendalikan ambisi?

Di Arab Saudi ada ratusan ribu pekerja migran Indonesia. Banyak dari mereka tidak bisa pulang Ramadan ini.

Saya bertemu seorang PMI asal Lombok. Ia kerja di bengkel. Sudah tiga tahun tidak pulang.

“Kangen bedug,” katanya.

Saya tertawa.

Ia tidak kangen hotel. Tidak kangen makanan mewah. Ia kangen suara bedug.

Begitulah manusia. Yang dirindukan bukan yang mahal. Yang dirindukan yang sederhana.

Malam makin larut. Jalanan Riyadh terang oleh lampu. Masjid-masjid penuh oleh tarawih.

Saya melihat para perantau berjalan pelan menuju masjid. Sebagian mungkin sendirian. Sebagian mungkin menahan rindu.

Ramadan memang begitu. Ia membawa kita pulang—meski kita jauh dari rumah.

Dan saya sadar satu hal malam ini:

Puasa itu bukan tentang lapar.
Puasa itu tentang belajar cukup.

Cukup dengan makanan sederhana—meski tersaji di hotel mewah.
Cukup dengan hidup sederhana—meski di negeri orang.
Cukup dengan hati yang tenang.

Kalau itu bisa kita pelajari, mungkin Ramadan kita berhasil.

Kalau tidak, kita hanya lapar dan haus.

Kam Min Shoimin Laisa Lahu Min Shiyamihi Illal Ju Wal Atsyu.

Author : Ari Mustarinudin
22-02-2026 22:46 WAS