Bukber di Perantauan
Riyadh - Jumat, hari ketiga Ramadan, langkah-langkah anak negeri berkumpul di sebuah istirahat kecil di Dhahrat Laban, Riyadh—tak jauh dari Diriyah, tanah tua yang menyimpan jejak mula sebuah kerajaan. Forum Majelis Taklim Riyadh (FORMATRA) menggelar buka bersama, dan di sana hadir orang-orang yang sama-sama membawa rindu: dari KBRI, dari paguyuban, dari organisasi mahasiswa, dari pekerja migran yang menabung harapan untuk keluarga di kampung.
Dr. Erianto Nazarlis, Abdul Hayat, para staf, wakil JAPRI, kawan-kawan Serikat Buruh Migran, PPMI, HIMA Riyadh—semuanya duduk di tikar yang sama, seolah jabatan dan asal-usul dilepas sejenak, diganti satu identitas: sesama perantau yang ingin pulang dengan doa.
Menjelang berbuka, tausiyah disampaikan Ust. Imam Riadi, mahasiswa doktoral di King Saud University, yang menekankan pentingnya belajar Al-Qur’an secara komprehensif: membaca, menghafal, memahami, lalu mengamalkan.
Saya jadi teringat penggalan ayat ?????? ?????? ?????????? ????????? ???????? ???? ????????????, yang oleh Ibn Kathir dipahami melalui bukti historis para sahabat dalam menjaga mushaf dan hafalan; oleh Syekh Nawawi al-Bantani dalam Tafsir al-Munir dipertegas sebagai penjagaan lafaz, makna, dan sanad; serta oleh M. Quraish Shihab dilihat dalam konteks relevansi modern—bahwa penjagaan Al-Qur’an juga berlangsung melalui kesadaran umat dan praktik nilai-nilainya. Ketiga perspektif ini menunjukkan satu hal: kesinambungan tradisi keilmuan Islam bergantung pada kombinasi antara otoritas teks, legitimasi sejarah, dan relevansi sosial.
Setelah azan Magrib, jamaah berbuka sederhana—kurma, syurba, dan hidangan ringan—lalu salat berjamaah dan makan malam bersama. Obrolan santai, kuis hafalan untuk anak-anak, hingga salat Isya dan Tarawih menutup rangkaian acara. Bagi pekerja migran, momentum seperti ini penting bukan hanya secara spiritual, tetapi juga sebagai social capital yang memperkuat kohesi komunitas di perantauan.
Di era teknologi, Al-Qur’an memang mudah diakses melalui aplikasi dan perangkat digital. Namun, hafalan tetap relevan. Ia membangun kedisiplinan, memperdalam internalisasi nilai, dan memastikan keberlanjutan tradisi keilmuan lintas generasi. Teknologi bisa menjadi alat bantu, tetapi fondasi tetap pada manusia—pada komitmen kolektif untuk menjaga ilmu, iman, dan kebersamaan.
Setelah ceramah singkat, suasana kembali cair. Panitia mengadakan kuis ringan menjelang berbuka. Azan Magrib pun tiba. Kurma, pisang molen, dan sup hangat menjadi pembuka sebelum salat berjamaah. Setelah itu, hidangan prasmanan sederhana—rendang, sayur, buah—terasa istimewa karena disantap bersama orang-orang yang sama-sama jauh dari rumah.
Sambil menunggu Isya dan Tarawih, suasana sempat santai tanpa agenda. Dr. Erianto lalu mengusulkan kuis hafalan ayat pendek untuk anak-anak. Hadiah kecil beberapa riyal tidak penting. Yang penting adalah kegembiraan, tawa, dan kenangan bahwa Ramadan di negeri orang tetap bisa terasa hangat.
</p><img src="https://japririyadh.com/assets/img/images/20260221_022645_32_6a2d5367ae.jpg" class="card-img-top rounded" alt="Foto: dok.JAPRI)"> <small>Ket: Foto: dok.JAPRI) (Foto: Japri)</small><hr><p>
Isya dan Tarawih berjamaah menutup acara malam itu.
Bagi pekerja migran di Arab Saudi, nilai tambah perantauan bukan hanya soal penghasilan. Ada akses terhadap ilmu agama, majelis taklim, dan kesempatan memperbaiki diri. Banyak yang datang demi ekonomi keluarga, tetapi pulang membawa bekal spiritual yang tidak ternilai.
Arab Saudi sejak lama menjadi magnet para pencari nafkah dari negara-negara Muslim, termasuk Indonesia. Di satu sisi, ia pusat ekonomi migrasi. Di sisi lain, ia pusat pembelajaran agama. Dua arus itu bertemu di ruang-ruang sederhana seperti bukber di Dhahrat Laban.
Di tempat buka puasa sederhana itu, kami belajar satu hal: di negeri orang, solidaritas bukan sekadar pilihan—ia kebutuhan hidup.
Author : Ari Mustarinudin21-02-2026 02:30 WAS