Ket: Dokumen ibadah umrah 7 Feb 2026 Foto : (Japri)
BERKAH IMD: AHLAN WASAHLAN YA ANDANUSIEN
Makkah - Masjidil Haram itu luas sekali. Angkanya boleh disebut: ratusan ribu meter persegi. Bisa menampung jutaan manusia. Pintu-pintunya ratusan. Pilar-pilarnya ribuan. Statistiknya bisa kita hafal. Tapi sebenarnya tidak ada angka yang mampu mengukur keluasan hati manusia yang datang ke sana.
Masjid itu seperti samudra. Kita ini hanya setetes air yang pulang ke asalnya.
Dari sekian banyak pintu, ada pintu-pintu yang biasa dilalui jamaah: Bab As-Salam, Bab King Abdul Aziz, Bab Al-Fahd, Bab Al-Umrah. Nama-nama itu seperti alamat pulang. Kami memilih Bab As-Salam.
Bukan karena paling strategis. Tapi karena kami ingin masuk dengan salam.
Ketika melangkah, lampu hijau menuju Hajar Aswad terlihat dari kejauhan. Pilar-pilar marmer berdiri tegak seperti para ulama yang sedang berzikir. Ornamen-ornamen masjid terasa seperti doa yang dibekukan menjadi bentuk. Dalam hati saya seperti mendengar bisikan:
Ahlan wa sahlan ya Andanusien…
Selamat datang wahai orang Indonesia.
Kami ini bangsa jauh, tapi di rumah Allah jarak tidak dihitung dengan kilometer. Ia dihitung dengan kerinduan.
Kami turun melalui lift menuju area thawaf. Teknologi modern mengatur arus jutaan manusia setiap hari. Escalator, lampu penanda, petugas, kamera—semua bekerja tanpa suara. Seperti malaikat yang tidak pernah terlihat, tapi memastikan perjalanan manusia tetap tertib.
Di tengah kecanggihan itu, saya membayangkan masa Rasulullah. Saat Ka’bah berdiri di tengah tanah lapang. Rumah-rumah Quraisy mengelilinginya. Tiga ratus enam puluh berhala berdiri di sekelilingnya. Ka’bah tetap dihormati, tetapi hati manusia masih bercampur antara tauhid dan syirik.
Sejarah mengajarkan kita bahwa bangunan bisa berubah. Yang sulit berubah adalah hati manusia.
Kami perlahan merapat menuju garis lurus ke Hajar Aswad. Barisan harus dijaga. Saya tempatkan Kang Alan di belakang, supaya rombongan tidak tercerai oleh arus manusia. Lautan manusia itu kadang tidak bisa diajak kompromi. Ia bergerak seperti takdir.
Saya sudah mengingatkan dua titik krusial: dari Rukun Yemeni menuju Hajar Aswad, dan dari Hajar Aswad menuju Rukun Iraqi. Di antara keduanya ada Hijir Ismail dan Maqam Ibrahim—tempat doa-doa manusia menumpuk seperti awan.
Di situ saya belajar satu hal kecil: kadang yang sunnah harus kita tahan dulu demi menjaga keselamatan sesama. Ibadah bukan hanya tentang mendekat ke Ka’bah, tetapi juga tentang tidak menyakiti orang lain dalam perjalanan menuju Ka’bah.
Tujuh putaran tawaf akhirnya selesai. Semua jamaah utuh. Tidak ada yang terpisah. Saya menarik napas lega.
Tapi Allah selalu punya pelajaran lain.
Teh Deena Sarah tiba-tiba lunglai. Kakinya keram. Kami menepi sedikit dari pusaran thawaf. Jamaah lain sudah memadati area. Hari Jumat membuat Masjidil Haram terasa seperti lautan yang pasang.
Situasi tidak memungkinkan untuk shalat sunnah di belakang Maqam Ibrahim. Saya menyarankan menunda.
Namun anehnya, Teh Deena Sarah tetap ingin shalat dua rakaat.
Di situlah saya sadar: di rumah Allah, setiap orang punya percakapan sendiri dengan Tuhannya. Kadang kita tidak bisa ikut campur.
Dan kisah kami pun belum selesai.
(Bersambung…)
Author : Ari Mustarinudin18-02-2026 15:41 WAS