Ket: Foto: dok.JAPRI) Foto : (Japri)
BERKAH IMD: BU PUPUN DAN KEIKHLASAN BERKHIDMAT
Riyadh - Dua tahun berturut-turut, sebagian dari mereka yang sebelumnya terlibat sebagai panitia International Migrant Day dan Pesta Rakyat yang diselenggarakan KBRI Riyadh memperoleh kesempatan menunaikan Umrah. Secara administratif, mereka hanyalah “eks panitia”. Namun dalam praktiknya, mereka adalah bagian dari mesin sosial yang memastikan agenda kolektif berjalan efektif—dari koordinasi lintas komunitas hingga eksekusi teknis di lapangan.
Kesempatan Umrah ini bukanlah skema penghargaan yang dirancang sejak awal. Ia muncul karena adanya sisa lebih anggaran dari penyelenggaraan IMD dan Pesta Rakyat. Tidak ada klausul dalam TOR yang menjanjikan kompensasi spiritual bagi panitia. Namun di situlah menariknya tata kelola kegiatan publik: ketika efisiensi tercapai dan akuntabilitas terjaga, ruang manfaat tambahan terbuka. Kerja kolektif yang dilakukan dengan disiplin sering menghasilkan dampak yang tidak direncanakan—dan itu adalah konsekuensi moral dari kesungguhan.
Setelah peringatan Hari Migran Internasional dan Pesta Rakyat 2025 rampung, ruang refleksi itu terbuka. Umrah menjadi ekstensi dari kerja sosial—bukan dalam arti seremonial, melainkan fase kontemplatif setelah pengabdian publik. Inisiatif datang dari KBRI Riyadh, pelaksanaan dipercayakan kepada PMI untuk PMI. Negara memberi ruang, komunitas mengambil peran. Di titik itu terlihat bahwa kohesi sosial diaspora tidak selalu lahir dari struktur formal, tetapi dari partisipasi nyata.
Dua perhelatan tahunan itu akhirnya menjadi instrumen konsolidasi sosial. Di tengah fragmentasi komunitas—berdasarkan sektor kerja, wilayah asal, atau paguyuban—IMD dan Pesta Rakyat menjadi titik temu. Umrah bersama memperluas fungsi itu. Secara teologis ia ibadah vertikal, tetapi secara sosiologis ia memperkuat modal sosial di antara PMI.
Di negeri orang, solidaritas bukan sekadar sentimen. Ia kebutuhan.
Apalagi dalam momentum sakral seperti Umrah.
Menunggu keberangkatan di halaman Masjid Al Rajhi lama, percakapan informal berkembang menjadi diskusi fikih. Mas Agus Salim, pegiat PMI dari Malang, mengajukan pertanyaan sederhana namun relevan: dalam safar, bagaimana posisi qadha shalat ketika perjalanan terhambat macet? Apakah jarak menjadi ukuran utama, atau kondisi objektif perjalanan? Dalil dikutip, kaidah ushul fiqih dirujuk, argumentasi mazhab dibandingkan.
Diskusi itu menarik. Tetapi bagi saya, safar bukan hanya menguji hafalan dalil, melainkan kesabaran dan keluasan hati.
Ketika jamaah mulai berdatangan, saya—yang juga bagian dari panitia dan ditunjuk sebagai mutowwif bus dua—kembali pada fungsi struktural: memastikan daftar hadir sesuai dengan kehadiran aktual. Administratif, sistematis, sederhana.
Hingga saya menemukan satu nama.
Bu Pupun.
Bu Pupun bukan sekadar nama dalam daftar. Ia pekerja rumah tangga di Riyadh. Usianya di atas lima puluh. Sudah lama di negeri ini—lebih lama dari sebagian panitia yang mengawalnya. Hari-harinya diisi kerja dari pagi sampai malam, menabung sedikit demi sedikit untuk keluarga di kampung. Umrah bersama ini mungkin salah satu mimpi yang ia tunggu bertahun?tahun.
Nama itu membawa konteks. Tahun sebelumnya beliau juga bergabung dalam rombongan Umrah bersama JAPRI Riyadh dan sempat tersesat hingga kesulitan kembali ke hotel. Dalam kondisi lelah, panik, emosi mudah meningkat. Dalam situasi itu saya dianggap sebagai penanggung jawab utama. Kritik pun datang, termasuk dari Pak Sujaya Kasim—tokoh senior pegiat PMI sekaligus penasehat JAPRI—dengan gaya penyampaian yang lugas dan langsung ke pokok persoalan.
Saya hanya bisa mengiyakan. Mendengar. Mengangguk—meski lewat telepon.
Dalam situasi itu ada Pak Tatang Muhtar, Ketua JAPRI. Gayanya berbeda—tenang dan terukur. Beliau tidak sibuk mencari siapa yang salah, melainkan fokus pada penyelesaian. Bu Pupun diminta mengirimkan live location. Titik keberadaan langsung diketahui. Beliau kemudian diarahkan naik taksi, sopirnya dipandu menuju hotel. Masalah selesai. Sesederhana itu.
Dari situ saya belajar: dalam manajemen krisis, yang utama adalah solusi, bukan saling menyalahkan.
Namun saya juga harus jujur. Karakter saya dan Pak Jaya mungkin sebelas dua belas—sama?sama mudah panik kalau situasi di luar kendali. Bedanya beliau panik lewat suara, saya panik di dalam kepala.
Ket: Foto: dok.JAPRI) (Foto: Japri)
Dan kini, beliau kembali lagi.
Di bus dua. Bus saya.
Saya berhenti sejenak. Melihat lagi daftar nama. Ingatan langsung mundur setahun. Dalam hati saya bergumam, “Ibu ini harus dikawal khusus. Jangan sampai bab lama terulang.”
Karena mengawal jamaah seperti Bu Pupun bukan sekadar tugas panitia. Ini menjaga mimpi seorang pekerja migran yang sudah menunggu puluhan tahun.
Bismillah. Dua bus kafilah Umrah dari Riyadh akhirnya berangkat. Sambutan singkat dibuka Kang Jenal—maskot perjalanan ini. Dari administrasi, sewa bus, sampai konsumsi, semuanya lewat tangannya. Lalu Pak Jaya memberi nasihat. Model penasehat ala Pak Jaya: strukturnya di atas struktur, petuahnya lebih kuat dari notulen rapat.
Giliran saya, mutowwif dadakan. Lumayan—hemat biaya panitia. Saya memimpin doa dan pembekalan fikih safar. Singgah di rest area, lanjut ke miqot, ulang lagi manasik: rukun, wajib, sunnah. Sepanjang jalan bus melantunkan labbaikallah—kadang khusyuk, kadang bercampur kantuk.
Tiba di hotel, kami bersiap menuju Masjidil Haram. Saya hitung rombongan. Empat puluh tiga orang. Semua ada. Alhamdulillah.
Tantangan sebenarnya dimulai di pelataran Masjidil Haram. Mengawal puluhan jamaah di tengah lautan manusia tidak mudah. Di titik krusial tawaf—antara Rukun Yemeni dan Hajar Aswad, juga di sekitar Hijir Ismail dan Maqam Ibrahim—arus manusia bisa memisahkan rombongan.
Saya putuskan membagi dua kelompok, dibantu Kang Alan dan Kang Asep. Strategi sederhana: jangan cepat, yang penting utuh.
Di depan pintu masjid, kendala kecil muncul. Ada yang ke toilet, ada yang batal wudhu. Hal teknis seperti ini sudah biasa. Kami atur ulang. Saya masuk duluan bersama sepuluh jamaah.
Ka'bah mulai terlihat. Hati bergetar.
Saya hitung lagi rombongan. Satu… dua… tiga…
Sampai di angka kesembilan belas.
Saya berhenti.
Satu nama belum saya lihat.
Bu Pupun.
Dan di situlah cerita Umrah kami benar?benar dimulai.
(Bersambung…)
Author : Ari Mustarinudin14-02-2026 16:30 WAS