... Ket: Foto: dok.JAPRI) Foto : (Japri)

Hanya Alasan Agar Bisa Bertemu

Riyadh - Rapat, dalam organisasi apa pun, sering kali diposisikan sebagai instrumen teknis: menyusun agenda, menetapkan target, dan membagi tugas. Di era digital—ketika hampir semua hal dapat dilakukan secara remote—pertanyaan yang layak diajukan justru sederhana: mengapa kita masih merasa perlu untuk bertemu secara fisik?

Jawabannya bukan karena teknologi belum cukup canggih. Sebaliknya, teknologi sudah terlalu mampu. Yang belum tergantikan adalah kualitas relasi yang lahir dari perjumpaan langsung. Interaksi emosional tidak sepenuhnya bisa dipindahkan ke layar. Terlebih bagi mahasiswa yang, dalam keseharian, sebagian besar hanya saling menyapa lewat pesan singkat di WAG.

Jumat lalu, kebutuhan itu menemukan momentumnya. Pertemuan tersebut bukan sekadar Rapat Kerja Perdana HIMA Riyadh 2026 untuk menyusun agenda setahun ke depan. Ia juga menjadi ruang jeda—tempat orang-orang yang selama ini terhubung secara digital akhirnya hadir sebagai manusia seutuhnya. Rapat berjalan efektif, aspirasi tersampaikan, lalu dirumuskan menjadi program prioritas yang masuk akal, menyesuaikan realitas para anggotanya sebagai pekerja migran dengan keterbatasan waktu dan energi.

Menariknya, percakapan yang paling bermakna justru kerap muncul di luar forum resmi. Cerita-cerita singkat itu perlahan membentuk satu kesimpulan: menjadi mahasiswa Universitas Terbuka bukanlah pilihan kelas dua. Data berbicara cukup jelas. Puluhan alumni UT berada di level manajerial dan kepala unit di BUMN. Sebagian lain menduduki posisi strategis sebagai Assistant Vice President dan Branch Manager. Ratusan alumni berkiprah sebagai supervisor, officer, hingga garda depan operasional perusahaan. Angka-angka ini tidak lahir dari kebetulan.

 

Foto: dok.JAPRI) Ket: Foto: dok.JAPRI) (Foto: Japri)

 

UT hari ini telah menjangkau lebih dari 50 negara, dengan ratusan ribu mahasiswa aktif dan jutaan alumni dari beragam latar profesi—pendidik, birokrat, aparat negara, pelaku usaha, hingga pekerja kreatif. Ini bukan sekadar soal skala, tetapi soal akses: bagaimana pendidikan tinggi bisa hadir bagi mereka yang bekerja, berpindah, dan hidup dalam keterbatasan ruang dan waktu.

Mungkin benar, pertemuan kemarin hanyalah “alasan agar bisa bertemu”. Namun dari alasan sederhana itu, kita belajar satu hal penting: bahwa organisasi tidak hanya digerakkan oleh program dan struktur, melainkan oleh kehadiran, rasa memiliki, dan keyakinan bersama bahwa apa yang sedang dibangun memang layak diperjuangkan.

Author : Ari Mustarinudin
31-01-2026 22:28 WAS